Monday, May 24, 2010

PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER, BUDAYA, DAN MORAL

PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER, BUDAYA, DAN MORAL

 

Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, telah memberikan pernyataannya di harian Kompas yang terbit di hari Sabtu, 20 Februari 2010, bahwa pendidikan karakter, budaya, dan moral menjadi suatu kebutuhan mendesak bagi pendidikan nasional Indonesia. Isu ini menjadi sangat penting dengan adanya penjiplakan karya ilmiah yang semakin banyak terjadi bukan hanya di kalangan mahasiswa tetapi sudah masuk pada tataran guru besar di berbagai kota. Di kalangan mahasiswa, baik mahasiswa S1, S2, dan bahkan S3 sekarang banyak yang menggunakan jasa pembuatan skripsi atau disebut pabrik skripsi, tesis, dan disertasi. Para penyedia jasa ini sudah terang-terangan mempromosikan makalah, skripsi, tesis, dan disertasi di surat kabar dan juga di internet. Jika kalangan akademisi saja sudah tidak peduli dengan adanya kejujuran dalam menulis karya ilmiah, bagaimana dengan nasib bangsa ini yang akan semakin terpuruk dengan sikap yang sangat tidak terhormat dengan penjiplakan atau penjualan skripsi, tesis, dan disertasi?

Pendidikan karakter, budaya, dan moral sudah lama didengungkan oleh para pendidik kita dan telah lama juga dirintis oleh Ki Hajar Dewantara dengan tri pusat pendidikannya yang menyebutkan bahwa wilayah pendidikan guna membangun konstruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh dimulai dari; (i) lingkungan keluarga; (ii) lingkungan sekolah; dan (iii) lingkungan sosial. Ketika pendidikan di lingkungan keluarga mulai sedikit diabaikan dan dipercayakan penuh kepada lingkungan sekolah, serta lingkungan sosial yang makin kehilangan kesadaran bahwa aksi mereka pada dasarnya memberikan pengaruh yang besar pada pendidikan seorang individu. Maka lingkungan sekolah (guru) menjadi garda terakhir yang terengah-engah memanggul kepercayaan tersebut. Orang tua semakin tidak peduli dengan pendidikan anaknya yang semakin hari semakin tergerus oleh lingkungan sosial yang merusak dirinya dan hilangnya rasa hormat kepada guru yang selama ini membimbingnya di sekolah. Mereka lebih menghargai teman yang menurutnya memberikan warna bagi kehidupannya.

Jika kita mengajukan pertanyaan umum tentang siapakah yang berada di garis terdepan dalam peningkatan mutu pendidikan karakter, budaya, dan moral. Semua sepakat bahwa gurulah yang menjadi frontliner. Kesejahteraan suatu bangsa yang ditopang oleh pilar kemajuan teknologi dan ekonomi sangat bergantung pada kemajuan pendidikan karena sistem yang dibangun suatu negara tidak akan berhasil tanpa dukungan SDM yang berkualitas. Peran guru menjadi sangat esensial dalam perpektif pengembangan pendidikan karakter, budaya, dan moral bangsa melalui proses pendidikan yang berkualitas termasuk didalamnya adalah pendidikan moral, budaya, dan karakter bagi semua peserta didik

Pendidikan moral disampaikan secara marjinal. Tanggung jawab pendidikan ini dibebankan kepada guru agama dan guru PKN.  Sedangkan dua guru bidang studi ini sibuk dengan pencapaian kompetensi yang harus dicapai siswa. Bagaimana dengan guru yang lain? Guru bidang studi lain bersibuk ria dengan kurikulum dan nilai Ujian Nasional. Pendidikan nasional yang memiliki tujuan yang mulia disibukkan  dengan berbagai proyek yang pada intinya dapat menghasilkan uang bagi para penentu kebijakan. Para pengambil kebijakan mendapatkan untung sebesar-besarnya dan masyarakat, guru, siswa semakin bingung akan dibawa kemana.

Itulah beberapa fakta yang terjadi di sekitar kita yang akhir-akhir ini menjadi suatu isu yang banyak terjadi. Bangsa ini kehilangan suatu teladan dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tolok ukur suatu keberhasilan suatu bangsa dalam mendidik tunas bangsa menjadi bahan olok-olokan dan dinomor sekiankan dari program pembangunan negara. Menurut Fritz R Tambunan, bahwa negara kita berada pada puncak tragedi pendidikan dimana aneka ketidakjujuran sudah berlangsung lama, dari kecurangan, penjiplakan karya ilmiah,dan  konversi nilai ujian akhir. Pernyataan ini memberikan bukti bahwa kebobrokan di bidang pendidikan bukan hanya terjadi hulu tetapi juga di hilir. Hal ini memiliki makna bahwa bukan hanya peserta didik, masyarakat, dan guru yang memiliki andil dalam kehancuran pendidikan ini tetapi juga pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional.

 

Guru atau pendidik memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Guru merupakan teladan bagi siswa dan memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan karakter siswa. Jika kita menengok kembali tugas guru yang luar biasa. Dalam UU Guru dan Dosen, UU no 14 tahun 2005, guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Lebih jauh Slavin (1994) menjelaskan secara umum bahwa performa mengajar guru meliputi aspek kemampuan kognitif, keterampilan profesional dan keterampilan sosial. Di samping itu, Borich (1990) menyebutkan bahwa perilaku mengajar guru yang baik dalam proses belajar-mengajar di kelas dapat ditandai dengan adanya kemampuan penguasaan materi pelajaran, kemampuan penyampaian materi pelajaran, keterampilan pengelolaan kelas, kedisiplinan, antusiasme, kepedulian, dan keramahan guru terhadap siswa.

WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga.

Pernyataan diatas ditegaskan kembali oleh Oemar Hamalik, tugas dan tanggung jawab guru meliputi 11 macam, yaitu:guru harus menuntun murid-murid belajar, turut serta membina kurikulum sekolah, melakukan pembinaan terhadap diri anak (kepribadian, watak, dan jasmaniah), memberikan bimbingan kepada murid, melakukan diagnose atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar, menyelenggarakan penelitian, mengenal masyarakat dan ikut aktif di dalamnya, menghayati, mengamalkan, dan mengamankan pancasila, turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia, turut mensukseskan pembangunan, dan tanggung jawab meningkatkan professional guru.

Dengan demikian, semakin jelas bahwa peran guru dalam dunia pendidikan modern sekarang ini semakin meningkat dari sekedar pengajar menjadi direktur belajar. Konsekuensinya, tugas dan tanggung jawab guru pun menjadi lebih kompleks dan berat. Sisi ini memberikan wacana bahwa guru bukan hanya pendidik akademis tetapi juga merupakan pendidik karakter, budaya, dan moral bagi para peserta didiknya.

Pendapat senada juga dinyatakan oleh Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan.

Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui peserta didik dan seharusnya diketahui oleh peserta didik.Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu peserta didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.
Usaha membantu kearah ini seharusnya diberikan dalam rangka pengertian bahwa manusia hidup dalam satu unit organik dalam keseluruhan integralitasnya seperti yang telah digambarkan di atas. Hal ini berarti bahwa tugas pertama dan kedua harus dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Guru seharusnya dengan melalui pendidikan mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya berpikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif dalam proses transformasi kebudayaan ke arah keadaban demi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh masyarakat di mana dia hidup. Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.

Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.

Berkaitan dengan tiga tugas guru tersebut dengan pendidikan karakter, budaya, dan moral bagi bangsa Indonesia, secara prinsip sudah ditetapkan baik dalam UUD 1945 maupun dalam Undang-Undang Sisdiknas no 20 tahun 2003. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

a. peningkatan iman dan takwa;

b. peningkatan akhlak mulia;

c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;

e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

f. tuntutan dunia kerja;

g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

h. agama;

i. dinamika perkembangan global; dan

j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

 

Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan, apabila diutarakan sekaligus merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional. 

Selanjutnya, pembinaan prajabatan melalui pendidikan guru ini harus mampu mendidik mahasiswa calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk menjadi manusia, person (pribadi) dan tidak hanya menjadi teachers (pengajar) atau (pendidik) educator, dan orang ini kita didik untuk menjadi manusia dalam artian menjadi makhluk yang berbudaya. Sebab kebudayaanlah yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk hewan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa hewan berbudaya, tetapi kita dapat mengatakan bahwa makhluk manusia adalah berbudaya, artinya di sini jelas kalau yang pertama yaitu training menyiapkan orang itu menjadi guru, membuatnya menjadi terpelajar, aspek yang kedua mendidiknya menjadi manusia yang berbudaya, sebab sesudah terpelajar tidak dengan sendirinya orang menjadi berbudaya, sebab seorang yang dididik dengan baik tidak dengan sendirinya menjadi manusia yang berbudaya. 

Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.

Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan peserta didiki menjadi manusia yang berkarakter, berbudaya , dan berkarakter sesuai cita-cita UUD 1945 dan Pancasila.

  Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter, budaya dan moral.

Guru sangat berperan dalam mendidik peserta didik dengan pendidikan karakter, budaya, dan moral. Bagaimana solusi yang ditawarkan kepada peserta didik dengan jumlah pelajaran yang banyak? Sebagai gambaran saja, untuk sekolah umum sekolah dasar ada 9 mata pelajaran, sekolah menengah pertama ada 12 mata pelajaran, dan sekolah menengah umum 17 mata pelajaran. Jika ditambah dengan pendidikan moral, pendidikan budaya, dan pendidikan moral maka masing-masing bertambah tiga pelajaran. Dikhawatirkan hal ini akan sangat kontra produktif. Bukan bertambah pemahaman mengenai karakter, budaya, ataupun moral peserta didik tetapi sebaliknya, peserta akan bersikap masa bodoh atau tidak peduli.

Terdapat beberapa solusi yang penulis tawarkan. Ketiga solusi ini bisa dilakukan secara individu ataupun dilaksanakan secara bersama sama. Pertama, calon pendidik atau guru diberi tambahan mata kuliah pada saat belajar di perguruan tinggi. Tambahan mata kuliah yaitu pendidikan karakter, pendidikan budaya, dan pendidikan moral. Mengapa sebaiknya diberikan kepada mahasiswa calon guru? Beberapa alasannya adalah banyak sekali mahasiswa calon guru meskipun umurnya sudah diatas 18 tahun tetapi tetap saja sikapnya masih seperti orang yang tidak mengenyam pendidikan. Misalnya menyeberang jalan dengan seenaknya padahal diatas jalan tersebut ada jembatan penyeberangan. Banyak calon guru yang tidak  mengerti pendidikan karakter itu apa, pendidikan moral itu apa, dan juga pendidikan budaya itu apa. Sehingga yang terjadi adalah setelah lulus menjadi guru akan menjadi guru yang suka memukul peserta didiknya, menjadi guru yang memperkosa peserta didiknya sendiri, dan
yang terparah adalah  membunuh peserta didiknya sendiri. Inilah yang disebut kehancuran pendidikan secara menyeluruh, baik secara akademis dan secara sikap.

Solusi kedua, belajar dari negara tetangga, yaitu Singapura. Di negara ini dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah diajarkan pendidikan nilai (values education). Pendidikan nilai ini wajib bagi sekolah negeri atau swasta. Pendidikan ini didasarkan pada enam hal yang disesuaikan dengan usia peserta didik. Keenam hal tersebut adalah care (kasih sayang), respect (saling menghormati), responsible (bertanggung jawab), integrity (integritas), harmony (keseimbangan), resilience (daya tahan atau tangguh). Meskipun di negara ini pelajaran agama ditiadakan tetapi diajarkan di keluarga masing masing, tetapi terlihat hasinya bahwa keenam hal yang diatas sangat mempengaruhi kehidupan di setiap aspek kehidupan.

Solusi ketiga, pendidikan karakter, budaya, dan moral disampaikan secara terpadu dengan seluruh pelajaran yang diajarkan di sekolah. Semua guru mata pelajaran diberikan tugas tambahan untuk menganalisa semua aspek yang diajarkan dan dihubungkan dengan pendidikan karakter, budaya, dan moral. Sebagai contoh adalah guru biologi mengajarkan tentang berbagai jenis tumbuhan. Materi ini akan ditambah dengan bagaimana siswa menghargai tumbuhan, bagaimana menjaga lingkungan dan sebagainya. Demikian juga guru bahasa. Selain mengajar materi bahasa, guru tersebut juga mengajarkan tentang pendidikan karakter, budaya, dan moral. Contohnya peserta didik diajarkan untuk tidak melakukan penjiplakan dengan cara dididik untuk membuat kalimat sendiri sampai peserta didik paham benar bagaimana menulis dengan baik dan benar, peserta didik dididik untuk memiliki budaya datang tepat waktu, dan peserta didik dididik untuk selalu menghormati karya orang lain. Demikian juga berlaku bagi semua guru mata pelajaran yang ada di sekolah.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, terdiri dari ribuan pulau, budaya yang beraneka ragam, beraneka suku, dan beratus bahasa berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan karakter, budaya, dan moral merupakan prioritas dalam usaha memperbaiki dan menjaga negara Indonesia tercinta ini. Washington P.Napitupulu (2001) menyatakan bahwa fundamental moralitas dan etika kemanusiaan diterapkan pada setiap profesi dan pada setiap bidang upaya manusia. Pernyataan ini memiliki arti yang mendalam bahwasanya sebagai guru bukan hanya mendidik peserta didiknya agar berhasil dalam bidang akademis melainkan guru juga merupakan teladan atau contoh dari suatu karakter manusia yang baik, memiliki budaya perdamaian dan juga moral yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhannya. Sehingga diharapkan dengan adanya pendidikan karakter, budaya, dan moral, diharapkan bahwa tidak ada perkelahian antar suku, perkelahian antar agama,
perkelahian antar tetangga yang hanya dibatasi oleh jalan raya. Adanya budaya malu untuk berbuat  curang, malu menyontek, malu berbuat sesuatu kejahatan, malu untuk korupsi benar - benar tertanam di hati dan pikiran setiap manusia Indonesia. Maka dalam rangka mempercepat usaha perbaikan moral, budaya, dan karakter bangsa Indonesia perlu diadakan kampanye besar-besaran bagi para guru di seluruh Indonesia untuk dapat kembali mendidik para peserta didiknya dengan teladan yang berdasar pada pendidikankarakter, budaya dan moral.

Tentu saja usaha ini akan menjadi isapan jempol belaka jika pemerintah  ataupun stakeholder suatu sekolah tidak ikut berperanserta dalam upaya kampanye besar-besaran perlunya pendidikan moral, budaya, dan karakter ataupun hanya dilakukan dalam hitungan jari saja, tetapi hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Kampanye pendidikan moral, budaya, dan karakter ini akan lebih bermakna jika pemerintah menjadi lokomotif penggerak
dengan memberikan contoh bagi masyarakatnya.

Contoh dari karakter yang perlu diperbaiki adalah kedisiplinan. Bangsa Indonesia telah dikenal dengan bangsa dengan jam karetnya, jika tidak terlambat maka dianggap bukan orang Indonesia. Hal ini sudah menjadi karakter yang seharusnya diperbaiki dengan segera. Disiplin nasional perlu digalakkan dengan sungguh-sungguh dalam upaya mewujudkan masyarakat, bangsa, negara yang bercita-cita luhur. Disiplin ini meliputi pelatihan dan pengajaran yang bertujuan memperbaiki tingkah laku dan moral bagi seluruh manusia yang tinggal di Indonesia, baik bagi kalangan akademisi dan juga para pelaku bisnis di Indonesia. Termasuk dalam pengertian disiplin adalah disiplin kerja, disiplin cara hidup sehat, disiplin berlalu-lintas, sanitasi, pelestarian lingkungan, dan sebagainya.Hal-hal yang mendasar yang kita lakukan sehari-hari sebaiknya dijadikan dasar atau pijakan dalam mengembangkan konsep disiplin yang bersifat abstrak.

Disiplin nasional akan berhasil jika di setiap
individu manusia yang ada didalmnya melaksanakan disiplin tersebut dengan kesungguhan hati dan memahami bahwa disiplin diri merupakan cikal bakal dari disiplin  diri yang akan berimbas pada disiplin nasional yang akan membawa bangsa ini ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Dengan demikian,dengan adanya pendidikan karakter, budaya dan moral bukan hanya generasi yang telah menjadi guru, tetapi juga setiap anak, pemuda, dan orang dewasa yang ada di Indonesia dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.  Melalui pendidikan karakter, pendidikan budaya, dan pendidikan moral yang berkelanjutan dan sungguh-sungguh akan menghasilkan watak dan manusia Indonesia yang seutuhnya. Di satu sisi, guru berusaha dengan gigih untuk memberikan teladan bagi peserta didiknya, dan di sisi lain, pemerintah dan juga stakeholder membantu dalam meningkatkan moral, budaya, dan karakter peserta didik. Dengan demikian akan terbina budaya kerja gotong - royong dalam rangka kemajuan bersama. Guru, digugu dan ditiru, bukan hanya menjadi slogan atau simbol semata, melainkan akan menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat di sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Borich, G.D. 1994. Observation Skills for Effective Teaching. Englewood Cliffs: Macmillan Publishing Company

Kompas, Pendidikan Karakter Mendesak, edisi Sabtu, 20 Februari 2010

Napitupulu, Washington P.2001. Universitas Yang Kudambakan, Unesco.

Rich, 2008. Ministry of Education, Singapore

Slavin, R. E. 1994. Educational Psychology (3rd ed.). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall Inc.

 

 


No comments:

Post a Comment